Jumat, 22 April 2011

Syair Abu Nawas

 Ilahi lastu lilfirdausi ahla, walaa aqwa ‘ala naaril jahiimi

Fahabli taubatan waghfir dzunubi, fainaka ghafirudz- dzanbil ‘adzimi

Dzunubi mitslu a’daadir- rimali, fahabli taubatan ya Dzal Jalaali

Wa ‘umri naqishu fi kulli yaumi, wa dzanbi zaaidun kaifa –htimali

Ilahi ‘abdukal ‘aashi ataak, muqirran bi dzunubi wa qad di’aaka

fain taghfir fa anta lidzaka ahlun, wain tadrud faman narju siwaaka

…………..

Ya Allah …tidak layak hambaMu ini masuk ke dalam surga-Mu

tetapi hamba tiada kuat menerima siksa neraka-Mu

Maka kami mohon tobat dan mohon ampun atas dosaku

sesungguhnya Engkau Maha Pengampun atas dosa-dosa

Dosa-dosaku seperti butiran pasir di pantai

maka anegerahilah hamba taubat, wahai Yang Memiliki Keagungan

Dan umur hamba berkurang setiap hari,

sementara dosa-dosa hamba selalu bertambah, bagaimana aku menanggungnya

…………..

Tampaknya syair di atas akan tetap kekal sampai akhir jaman bagi manusia, sebagai pengingat dan renungan tentang dosa-dosa manusia. Siapa pun itu dan dimanapun, syair itu sangat tepat dan cocok sebagai cambuk peringatan. Apalagi di tengah suhu hawa panas yang menimpa bumi, bahkan cuaca tak menentu. Ada yang panas sampai 38 derajat celcius, seperti di jogja. Tapi di lain tempat adalah banjir dan longsor, seperti di jakarta dan Bandung.

Selain itu, menurut saya suhu kebangsaan juga sedang panas. Sakit dan meradang. Apalagi hari ini, di televisi banyak suguhan adegan ”kekerasan”. Baik di luar ruangan gedung wakil rakyat, maupun di dalam ruangan. Saya sebagai penonton sampai malu, ga tega mau melihat lebih lanjut. Lalu apakah para pemeran adegan itu merasakan malu?

*Syair tersebut adalah gubahan Abu Ali al-Hasan ibnu Hani al-Hakami. Seorang sufi besar dan juga seorang penyair Islam termasyhur di era kejayaan Islam pada zaman kekuasaan Sultan Harun al Rasyid al Abassi, yang menjadi khalifah Dinasti Abasiyah tahun 786-809. Pada zamannya beliau terkenal dengan sebutan Abu Nawas.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar